Zakat Tijarah Dalam Bentuk Barang



Seorang pedagang ketika ahir tahun dan setelah harta perdagangannya dikalkulasi sudah mencapai satu nishop kemudian ketika mengeluarkan zakat, biasanya mereka mengeluarkan zakatnya dengan berupa barang dari perdagangannya itu sendiri. Bolehkah mengeluarkan zakat tijarah itu dengan berupa barang seperti apa yang diceritakan diatas?. Dan apakah sudah mencukupi?.

Jawa: Hukumnya tidak boleh dan belum mencukupi, kecuali menurut pendapat Abu Hanifah. Adapun dasar penjelasannya seperti dibawah ini yang diambil dari kitab Fathul mu’in juz 2 halaman 198 (darul fikr):
“Tidak diperbolehkan bagi pemilik harta zakat memindahkan zakatnya dari daerah harta itu sendiri, sekalipun dipindah kedaerah yang berdekatan, dan zakat hukumnya tidak mencukupi (tidak sah). Dan tidak diperbolehkan memberikan zakat dengan bentuk qimah (harga yang senilai) kecuali dalam zakat harta perdagangan. Sedang dalam harta perdagangan tidak di perbolehkan memberikan zakat dengan berbentuk barang dagangan itu sendiri .
Telah dikutip dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Hudzifah ra, bahwa memberikan zakat kepada satu kelompok hukumnya diperbolehkan. Pendapat tersebut juga dikatakan oleh imam Abu Hanifah. Dia berkata; Hukumnya boleh memindah zakat namun makruh, boleh memberi zakat dengan berbentuk harga, dan boleh memberikan zakat perdagangan dalam bentuk barang dagangan itu sendiri”. Lafadz (Redaksi) “ wala daf’u’ ainihi ” diathofkan kepada lafadz “ Naqli Al-Zakat “ artinya hukumnya tidak boleh memberikan zakat berupa barang  dalam zakat perdagangan, dan hukumnya tidak mencukupi (tidak sah) karena hubungan zakat perdagangan adalah dengan qimahnya (nilainya) “.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Zakat Tijarah Dalam Bentuk Barang"

Posting Komentar

Tulisan adalah cermin kepribadian, silahkan sobat komentar