Shalat Jama'ah dengan sekat kelambu




Tanya : Dimasyarakat ketika berjama’ah shalat di masjid antara jama’ah laki-laki dan perempuan diberi sekat kelambu atau korden, yang dipasang membujur dari dinding bagian barat sampai timur tanpa ada celah jalan yang bisa menuju ketempat imam, namun tidak sampai menghalangi pandangan makmu pada imam. Sahkah shalat jama’ah wanita tersebut, jika kelambu tersebut tidak dibuka?

Jawab: Menurut kaul yang ashoh hukumnya tidak sah. Dasar hukum tersebut dijelaskan dalam kitab:
Keterangan: Mugni Muhtaj Juz 3 halaman 270 maktabah syamilah:  “andaikan ada perkara yang menghalangi sampainyamakmum ketempat imam, namun tidak menghalangi pandangannya. Semisal, jendela ruji menghalangi sampainya makmum ketempat imam. Semisal, pintu yang tertutup maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat yang ashoh dalam Ar-Roudloh, jama’ah seperti hal tersebut tidak sah dengan mengambil pendapat yang dishahihkan oleh imam An Nawawi dalam penjelasan permasalahan masjid serta bumi yang tidak ada pemiliknya.”
Keterangan dalam kitab I’anatutholibin Juz 2 halaman 35.maktabah darul fikir: “Apabila antara keduanya (Imam dan makmum) terdapat penghalang yang dapat mencegah lewat (makmum) ketempat imam, semisal jendela ruji, atau menghalangi pandangan mata, semisal pintu yang tutup, sekalipun tidak dikunci karena dapat menghalangi penglihatan, dan sekalipun tidak menghalangi makmum untuk berjalan ke tempat imam, begitu juga tabir yang terurai, atau tidak ada orang yang berdiri dijalan tembus (lubang), maka bermakmum hukumnya tidak sah”.
Penetapan Awal Ramadlan Dan Sawal Dengan menggunakan dasar Hisab.

 Penetapan Pemerintah tentang awal Ramadhan dan awal Syawal dengan menggunakan dasar hisab, tidak wajib diikuti. Sebab menurut Jumhurus Salaf bahwa tsubut awal Ramadhan dan awal Syawal itu hanya birru’yah au itmamil ‘adadi tsalatsina yauman.
Antara lain tersebut dalam :
·         Bughyatul  Mustarsyidin, hlm. 108.
·         Al-Ilmu Al-Manshur fii itsbatis Syuhur:
Bulan Ramadhan sama seperti bulan-bulan lainnya disepakati tidak boleh ditetapkan kecuali dengan telah melihat hilal, atau menyempurnakan  bilangan menjadi tiga puluh hari.
        Menurut pendapat kalangan Al-Malikiyah, seandainya imam atau penguasa mengetahui adanya hilal berdasarkan hisab dan kemudian menetapkannya, maka imam atau penguasa tersebut tidak perlu diikuti, karena bertentangan dengan ijmak ulama salaf.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Shalat Jama'ah dengan sekat kelambu"

Posting Komentar

Tulisan adalah cermin kepribadian, silahkan sobat komentar