Melepas pengaruh meraih kemurnian




 Nabi Muhammad sollallahu alaihi wa sallam ditanya tentang ikhlas. Nabi bersabda: “Aku bertanya kepada malaikat Jibril as tentang ikhlas, apakah ikhlas itu? Lalu Jibril berkata, ‘Aku bertanya kepada Allah yang Maha Suci tentang ikhlas, apa sebenarnya (ikhlas itu)?’ Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, suatu rahasi dari rahasia-Ku yang Aku tempatkan di hati hamba-hamba-Ku yang Aku cintai”.
Ikhlas berarti bermaksud menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan, sikap taat dimaksudkan taqorrub kepada Allah, mengesampingkan yang lain dari makhluq, menjernihkan amal hanya karena Allah.
            Semua amal hanyalah kulit dan jasad, sedangkan ruhnya adalah ikhlas dalam perbuatan. Seperti halnya tidak ada penopang untuk kulit kecuali ruh [karena, jika tidak demikian, kulit akan menjadi sekadar bangkai], maka tidak ada penopang untuk amal- amal badan dan hati kecuali adanya keikhlasan. Jika tidak ada keikhlasan , maka amal hanyalah kerangka yang berdiri, dan kulit kosong yang tidak berharga.Allah berfirman,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam(menjalankan)agama dengan lurus.”(QS.98:5).
            Nabi SAW.  bersabda  ketika menyampaikan firman Allah, “Akulah yang terkaya di antara yang mereka sekutukan. Barangsiapa yang menyekutukan-Aku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan dia beserta sekutu mereka.” Hadist lain beliau bersabda,”Yang paling aku takutkan dari umatku adalah syirik ringan, yaitu riya’.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda,”Hindarilah syirik ringan, karena syirik ini merayap seperti semut .”Beliau bertanya ,”Apa yang dimaksud dengan syirik ringan?”Beliau menjawab,”Riya’ .” Itulah makna yang terkandung dari pernyataan Ibnu ‘Athaillah.
            Dalam sebuah hadist Musalsal, diriwayatkan bahwa Nabi SAW. ditanya Ihwal ikhlas. Beliau menjawab,”Tunggulah sampai aku tanyakan hal ini kepada Jibril.” Saat ditanya, Jibril menjawab.” Aku akan bertanya kepada Tuhan Yang Maha Agung.” Kemudian Jibril bertanya kepada-Nya dan Allah menjawabnya,”Ikhlas adalah satu rahasia-Ku yang kutitipkan di hati orang yang aku cintai dari hamba-hamba-Ku. Ikhlas tidak bisa dilihat oleh satupun malaikat sehingga dia bisa mencatatnya, tidak juga oleh setan sehingga dia bisa merusaknya.” Menurut sebagian sufi, ikhlas adalah maqam ikhsan, yaitu:”Engkau beribadah kepada Allah seakan engkau melihat-Nya.”
            Ikhlas mempunyai tiga tingkatan, yaitu tingkatan umum, tingkatan khusus, dan tingkatan khusus dari yang khusus(khawas al-khawas). Ikhlas tingkatan umum adalah menghilangkan gambaran makhluk dari dalam hati untuk bergalau bersama Tuhan,tapi masih disertai mencari hasrat duniawi dan ukhrawi, seperti menjaga badan, harta, limpahan rezeki, istana dan bidadari. Ikhlas  tingkatan khusus adalah mencari hasrat-hasrat ukhrawi tanpa hasrat duniawi. Dan ikhlas tingkatan khusus dari yang khusus adalah yang mengeluarkan segala hasrat secara total ibadahnya membuktikan kehambaan dalam menjalankan tugas-tugas ketuhanan, atau karena cinta dan rindu untuk melihat-Nya,
            Abu utsman Al maghriby mengatakan, keikhlasan adalah keadaan dimana nafsu tidak memperoleh kesenangan. Ini adalah ikhlas orang awam, sementara ikhlas manusia pilihan (khawas), keikhlasan datang bukan dengan perbuatan mereka sendiri. Amal kebaikan lahir dari mereka, tetapi mereka menyadari perbuatan baiknya bukan dari diri sendiri dan tidak pula peduli pada amalnya.
Syaikh Abu Thalib berkata,” ikhlas menurut orang-orang yang ikhlas adalah mengeluarkan pengaruh makhluk untuk bergaul bersama Tuhan. Dan makhluk pertama yang dikeluarkan itu adalah nafsu. Ikhlas menurut orang-orang yang mencintai Allah adalah tidak beramal karena nafsu. Jika tidak, nafsu akan meminta ganti atau pemenuhan keinginannya. Sedangkan ikhlas menurut ahli tauhid adalah mengeluarkan makhluk, tidak melihat mereka dalam berbagai pekerjaan, tidak diam dan tidak tenang bersama mereka dalam berbagai keadaan,”
            Seorang sufi berkata,” Perbaikilah amalmu dengan ikhlas dan perbaikilah ikhlasmu dengan berlepas diri dari daya dan kekuatan(diri sendiri).”
            Sebagian ‘arif mengatakan bahwa ikhlas tidak akan nyata sampai ia bebas dari pengaruh pandangan manusia, dan pandangan manusia tidak mempengaruhi amalnya. Karena itu seorang sufi lain berkata, “Setiap engkau sirna dalam pandangan makhluk sesungguhnya engkau besardalam pandangan Tuhan, dan setiap engkau besar dalam pandangan makhluk, maka engkau sirna dalam pandangan Tuhan.”Sirnanya suatu amal itu terjadi dengan memperhatikan dan mengawasi mereka.
            Guru imam Atho’illah berkata, bahwa selama seorang hamba memperhatikan manusia dan memuliakannya, maka Ikhlasnya tidak akan tercapai selama-lamanya. Dia juga mengatakan, bahwa muraqabah kepada Allah tidak akan bersatu dengan muraqabah kepada makhluk, karena mustahil engkau bisa melihat-Nya sedangkan engkau melihat yang selain Dia. Jadi, tidak mungkin keluar dari nafsu dan bebas dari riya’ yang paling halus, tanpa bantuan seorang guru.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Melepas pengaruh meraih kemurnian"

Posting Komentar

Tulisan adalah cermin kepribadian, silahkan sobat komentar