Keutamaan Bulan sa'ban


bulan syaban

Setiap dari kita tidak pernah tahu, diterima atau tidak amal ibadah kita, namun semua dari kita tahu bahwa kema’siatan, kemungkaran dan perbuatan dosa yang kita lakukan itu akan mendapatkan hukuman dari Allah, bila Allah tidak mengampuninya. Kesadaran itu tumbuh bersam perayaan nisfu sya’ban yang dilakukan di beberapa masjid dan mushalla. Yang diyaqini oleh setiap ummat islam bahwa pada malam itu adalah malam dimana catatan amal kita akan dihaturkan kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Abi Umamah Al-Bahili ra. Berkata ,”Rasulullah SAW. telah berpuasa, sehingga kami mengatakan beliau tidak akan berbuka puasa. Beliau selalu berbuka, sehingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Dan kebanyakan puasa beliau adalah dalam bulan Sya’ban.” Dalam An-Nasa’I dari hadist Usamah ra. Berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan dari bulan-bulan ini, seperti puasamu dalam bulan sya’ban .” Beliau bersabda,”Itu adalah sebuah bulan, yang biasanya manusia lengah, antara Rajab dan Ramadhan. Dia adalah sebuah bulan di mana amal-amal ini diangkat kepada Tuhan seluruh alam. Maka aku suka kalau amalku diangkat (dilaporkan), sedang aku dalam keadaan puasa.” Di dalam Sahihain dari Aisyiah ra., “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW. menyempurnakan puasa sebulan sama sekali, kecuali bulan Ramadhan, dan akupun tidak pernah melihat – beliau dalam sebulan yang lebih banyak  berpuasa dibandingkan bulan Sya’ban
            Dikatakan, bahwa sesungguhnya malaikat-malaikat di langit memiliki dua buah malam hari raya. Sebagaimana orang-orang Islam di bumi juga memiliki dua buah malam hari raya. Lalu hari raya malaikat adalah malam bara’ah yaitu malam nishfu Sya’ban dan malam lailatul qadr. Sedangkan hari raya orang-orang mukmin adalah hari raya fitri dan adha. Karena itulah, maka malam nishfu Sya’ban disebut malam hari raya malaikat. As-Subki menuturkan dalam tafsirnya,” Sesungghnya malam nishfu Sya’ban bisa menutup dosa-dosa setahun. Sedangkan malam jum’at bisa menutup dosa-dosa seminggu dan malam lailatul qadr dapat menutup dosa seumur hidup.” Artinya, menghidupkan malam-malam ini (dengan ibadah) menjadi sebab ditutupnya (dihapus)dosa. Malam nisfu Sya’ban itu juga disebut malam takfil(menutup) karena alasan yang demikian itu juga karena malam kehidupan. Al-Mundziri meriwayatkan dengat marfu’,”Barangsiapa yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam nisfu Sya’ban, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati-hati ini mati.” Dia juga disebut malam ‘syafa’at’ karena Nabi Muhammad SAW. minta kepada Allah SWT. pada malam ketiga belas akan syafa’at kepada umatnya lalu Allah memberinya sepertiga. Beliau minta itu kepada-Nya pada malam keempat belas. Lalu Dia memberinya dua pertiga dan beliau meminta itu pada malam kelimabelas. Lalu Dia memberinya seluruhnya, kecuali orang yang lari melepaskan diri dari Allah seperti larinya unta. Yakni lari dan menjauh dari Allah dengan mengabdikan perbuatan durhaka. Dia juga disebut malam maghrifah karena Imam Ahmad meriwayatkan, sesungguhnya Rasulullah SAW. bersabda,”Sesungguhnya Allah menampakkan kepada hamba-hamba-Nya pada malam setengah dari Sya’ban lalu mengampuni kepada penghuni bumi, kecuali dua orang laki-laki, yaitu orang musyrik dan orang yang mendendam
Tentang malam nisfu Sya’ban.” Aisyah berkata,” Ya unais, nisfu Sya’ban. Malam itu adalah malam bagianku dari Rasulullah SAW. beliau menghampiriku dan masuk dalam selimutku. Aku terbangun tengah malam dan akau tidak menemukannya lagi. Aku berkata,” mungkin beliau pergi ke perempuan mudanya, Al-Qibthiyah. Maka aku keluar melewati masjid lalu kakiku menyentuhnya sedang beliau bersabda,’ Telah sujud kepada-Mu tubuh dan diriku dan telah beriman hatiku pada-Mu. Ini tanganku dan sesuatu yang aku petik atas diriku. Wahai Tuhan Maha Agung yang diharapkan untuk setiap urusan-urusan besar, ampunilah dosa pendengaran dan penglihatannya.’ Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bersabda,” Ya Allah, berilah aku rezeki hati yang bertakwa, bersih dari syirik dan suci, tidak kafir dan tidak pula celaka.” Kemudian beliau kembali sujud lagi dan aku mendengarnya beliau bersabda,” Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu dan dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian terhadap-Mu. Engkau seperti memuji pada zat –Mu sendiri. Aku berkata, berkata sebagaimana yang dikatakan  saudaraku Dawud,” Aku memberi debu (membenamkan) wajahku dalam debu untuk Tuan-Ku dan memang seharusnya dia dibenamkan dalam debu untuk zat Tuannya.”Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan aku berkata,” Demi bapak dan ibuku, sebagai tebusan kamu, kamu dalam sebuah lembah dan akupun dalam sebuah lembah yang lain.” Beliau bersabda, “Ya Humaira’, bukankah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya malam hari ini adalah malam nisfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla membebaskan orang-orang dari neraka sebanyak bilangan kambing suku Kalbin, kecuali enam golongan, yaitu peminum arak, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang melangsungkan zina, orang yang memutus (hubungan famili), Mudharrib, dan mengadu domba.” Dalam sebuah riwayat mushawwir dikatakan sebagai ganti mudharrib (mendorong permusuhan).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keutamaan Bulan sa'ban"

Posting Komentar

Tulisan adalah cermin kepribadian, silahkan sobat komentar